Jadi Workaholic? Boleh Saja. Tapi….

Rekans P2KP/PNPM Mandiri Perkotaan tercinta,
Selamat menjalani ibadah Ramadhan bagi rekans Muslimin dan Muslimah. Semoga Ramadhan kali ini membawa keberkahan dan mendapat ridho Allah, SWT. Amiiin..

Pagi ini saya menemukan artikel menarik mengenai perangai bekerja, tepatnya workaholic, alias gila kerja. Bagus nggak sih jadi workaholic itu? Well, kalau dilihat dari sudut agama, di mana-mana yang namanya “terlalu” atau berlebihan itu tidak baik–dan tidak disarankan untuk tetap dilakukan. Secara logika dan science pun, idem ditto. Kenapa? Salah satunya, mari disimak artikel dari vivanews berikut ini..

Selamat membaca ya..

Bahaya Menjadi Si Gila Kerja – Kamis, 26 Agustus
Oleh Petti Lubis, Mutia Nugraheni (Vivanews)

Selama ini mungkin Anda bekerja dengan semangat untuk mencapai kesuksesan tertentu. Baik naik gaji, bonus, ataupun menggapai jenjang karir yang lebih tinggi. Tetapi, jika sistem kerja Anda tidak teratur, setiap hari lembur dan tidak menyediakan waktu untuk beristirahat, ketika kesuksesan karir Anda raih, justru kesehatan bisa memburuk.

“Banyak orang menekan dirinya sendiri untuk hidup dengan tidak sehat demi mengejar kesuksesan. Tetapi, tekanan kerja tinggi dan jam kerja yang panjang, bisa membawa seseorang ke dalam masalah kesehatan serius bahkan bisa memperpendek umur,” kata George Griffing, M.D., profesor pengobatan internal dari Saint Louis University, Filipina, seperti dikutip dari Times Of India.

Banyak bahaya kesehatan yang mengintai jika Anda gila kerja. Bukan hanya masalah kesehatan fisik tetapi juga psikologis. Berikut enam masalah yang timbul ketika seseorang menjadi workaholic.

1. Lupa bersantai

Stres karena pekerjaan dalam kadar tertentu memang cukup baik untuk ‘memaksa’ Anda tetap bekerja dan termotivasi. Tetapi, jika dibiarkan dan Anda lupa cara memanjakan diri, kehidupan hanya akan dilingkupi stres. Emosi Anda pun menjadi tidak stabil.

2. Tidak bisa menikmati makanan

Makanan selezat apapun tidak akan bisa Anda nikmati jika dikonsumsi di depan komputer, sambil conference call atau menyelesaikan deadline. Orang yang gila kerja cenderung merasa ‘membuang waktu’ jika menikmati makan siangnya di tempat makan tanpa membicarakan atau menyelesaikan pekerjaan.

3. Tidur minim

Seseorang yang menyebut dirinya profesional, berarti dia bisa membedakan kapan waktu pribadi dan kapan waktu untuk bekerja, termasuk waktu tidur. Setiap pekerja membutuhkan waktu tidur antara delapan hingga sembilan jam. Kurang tidur membuat emosi seseorang tidak stabil, kurang konsentrasi, bermasalah dengan memori dan cenderung membuat keputusan kurang tepat. Padahal hal itu sangat dibutuhkan oleh seorang profesional.

4. Bekerja saat sakit

Banyak pekerja tetap datang ke kantor meskipun sedang sakit. Padahal jika dilihat dari produktivitasnya, seseorang yang sakit jauh dari produktif saat bekerja. Jadi, lebih baik beristirahat dulu di rumah hingga sembuh daripada pekerjaan berantakan karena sakit.

5. Minum kopi berlebihan

Orang yang gila kerja seringkali minum kopi dalam jumlah banyak. Jika dilakukan terus-menerus risiko serangan jantung, gangguan pencernaan, kecanduan dan bahkan penuaan dini makin tinggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s