Menyulap Transkrip Laporan menjadi Feature

Selama bergabung di P2KP, saya sering sekali menghadapi rekan-rekan yang sangat piawai mengerjakan laporan *). Tapi, begitu “ditantang” menulis, mereka langsung nyengir (baca: bengong karena mentok)–lalu, ngacir (baca: nyerah)…😛

Sekarang, saya ingin menyemangati teman-teman yang jago membuat laporan ini untuk menuangkan pengetahuannya (tentang event yang ditanganinya) menjadi sebuah tulisan yang enak dibaca.

*)asumsi saya: laporan didapatkan dari wawancara atau bincang2 di lapangan.

Saya mengambil contoh dari milis tetangga (terkait jurnalistik) yang baru saja mewawancarai seorang pengacara (lawyer) mengenai kehidupan di dunia lawyer dan seputar hukum. Selamat menyimak..😉

List pertanyaan rekan saya (bernama Mhimi) yang dilayangkan kepada pengacara Dwiyanto Prihartono, adalah sebagai berikut:

Bagian Pertama
1. Apakah, seorang lawyer bisa bertindak sebagai Jaksa Penuntut hukum…??
(jawaban) – Di Indonesia tidak bisa.
2. Ada ngga batasan wilayah/area kerja seorang lawyer..? misalnya; Lawyer yg di jakarta. ngga bisa nangani kasus di makassar, karena kantornya berdomisili di Jakarta.
(jawaban) – Saat ini tidak ada.
3. Baju yg dikenakan para lawyer dan hakim itu di pengadilan, disebut baju apa yah..?
(jawaban) – Toga
4. ada ngga batasan “naik banding”..? sampai berapa kali..?? terus, kalau sudah naik banding berkali-kali, tapi klien yg di tangani belum bisa menerima dan merasa keputusan hakim tidak adil. selain di Mahkamah konstitusi, di mana lagi ia minta keadilan..??
(jawaban) – Banding itu cuma 1 kali. Setelah itu Kasasi. Kalau belum puas juga PK (Peninjauan Kembali). Mahkamah Konstitusi itu bukan pengadilan, itu untuk meminta judicial review atau uji materiil suatu hukum atau UU yang dianggap bertentangan atau tumpang tindih dengan aturan lain.
5. Bisa ngga seorang menuntut sebuah lembaga pengadilan.. ? pengadilan agama,misalnya. .? terus di adili dimana..? yg dituntut siapa-siapa saja..??
(jawaban) – Keputusan pengadilannya tidak bisa dituntut.
(jawaban) – Tapi kalau personilnya bisa digugat atau dilaporkan.

Bagian ke dua : Lawyer dan kepribadiannya
1. Apa sih, kebangaan terbesar Anda sebagai seorang lawyer..?
(jawaban) – Menjadi orang yang mempunyai kemampuan di atas rata2 orang mengenai sesuatu yang rumit dan tingkat kehati-hatian yang sangat tinggi tapi tidak lambat dalam berpikir.
2. Apa yg berkecamuk dalam pikiran anda, ketika kasus yang anda tangani adalah sebuah kasus yg tidak akan mungkin dimenangkan, mengingat posisi klien yg anda tangani,berada dalam posisi pihak yg bersalah.
(jawaban) – Kemenangan tidak diukur dengan salah atau tidaknya seseorang tapi dari sejauh mana kepentingan hukum seseorang dapat dilindungi dan dipenuhi.
3. Apakah semua lawyer selalu identik dengan kehidupan mewah?
(jawaban) – Tidak. Kalau lawyer yang bekerja di public interest, yang bekerjanya di LBH, YLKI, itu jauh dari kemewahan.
4. Apa yang diinginkan seseorang ketika memilih menjadi lawyer..?
(jawaban) – Ingin menjadi orang yang bisa memahami hakekat hukum secara lebih baik.
5. Apa sih, dilema terbesar seorang pengacara..?
(jawaban) – Tidak ada (pengacara yg ini blg gak ada, hihihi)
6. Jika anda harus mengajak seseorang menjadi lawyer. Apa yg anda katakan padanya untuk menyakinkan dia menjadi seorang lawyer..?
(jawaban) – Lihat jawaban no. 1
7. Menurut anda, benar ngga, kalau lawyer bisa jadi detektif, tapi detektif tidak bisa jadi lawyer..? lalu apa perbedaan dasar antara detektif dengan seorang lawyer dalam menyelidiki kasus yg mereka tangani?
(jawaban) – Benar. Karena detektif tidak punya ijin praktek lawyer
8. Apa seorang pengacara akan selalu mempercayai insting mereka sebagai lawyer..? walaupun kenyataannya bukti-bukti yg ada tidak mendukung insting tersebut…?
(jawaban) – Tidak selalu laaah
9. Penyesalan terbesar seorang lawyer..??
(jawaban) – Kalau nggak laku dan nggak punya klien (kata Mas Dwi nih hahahahahah)
10. Adakah kasus yg anda ingin hindari…??
(jawaban) – Ada. Kasus keluarga yang dua-duanya kenal baik.

Di dunia kewartawanan, yang Mhimi lakukan adalah mewawancarai. List pertanyaan Mhimi dan jawaban Mas Dwi itu sering kami sebut sebagai transkrip. Dan inilah cara “menyulap” transkrip menjadi feature.

*Catatan: Feature adalah sebuah tulisan yang lebih komunikatif dan deskriptif. Tidak seperti straight news, feature bersifat ever green alias tidak akan basi (dari segi topik) dan tidak kaku, malah seringkali sebuah tulisan feature itu sarat nilai humanis.

Oke, so here are the steps.

Pertama, tentukan tujuan tulisan. Dari transkrip, kita semua bisa lihat bahwa tujuan Mhimi mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah untuk mempelajari lebih jauh tentang hukum dan “behind the scene” sebuah proses hukum. Dan, karena sebuah tulisan yang baik harus memuat ilmu (kan misi utama jurnalistik itu mencerdaskan bangsa), maka kita tegaskan bahwa tujuan feature ini adalah “agar publik lebih mengerti hukum dan kehidupannya”. Nggak jauh dengan tujuan mengajukan pertanyaan ya? That’s exactly the point! Apa yang ditanyakan kepada narasumber harus sesuai dengan tulisan.

Oke, setelah kita menentukan tujuan, kita lanjut ke step kedua: setting alur feature. Di antaranya dengan membuat kerangka tulisan. Kita bisa menuliskannya di atas kertas, atau rekam di kepala. Jurnalis/writer yang sudah terbiasa menulis akan dengan mudah merekam kerangka tulisan di kepala mereka sendiri.

Ketiga, tentukan judul. Biasanya judul nggak akan jauh-jauh dari tema/tujuan feature kita

Keempat, tulis. (Akan dibahas terakhir yak)

Kelima, periksa kembali tulisan dan lakukan editing jika diperlukan, seperti:
– salah ketik (typo) atau ejaan. Kalau ragu dengan sebuah kata, silakan buka kamus Bahasa Indonesia (sebaiknya seorang penulis profesional punya kamus!),
– kalimat yang tidak nyambung antara kalimat sebelum dan sesudahnya,
– kalimat (ingat, KALIMAT, bukan KATA) yang berulang atau bertele-tele dan tidak perlu,
– alur yang melompat atau tidak sesuai dengan tulisan,
– dsb.

Keenam, serahkan ke redaktur/editor/quality control—jika ada. Jika tidak ada (misalnya untuk blogging) langsung saja submit/publish.

Oke, sekarang saya kasih contoh tulisan feature berdasarkan transkrip yang ada. Saya tegaskan, ini hanya CONTOH. Kalau rekan-rekan merasa bisa menulis agak berbeda dari segi angle (sudut pandang) yang diangkat atau topik/tema utama yang dipilih (disebut LEAD), silakan. Di feature berikut ini, angle yang saya pilih lebih general, yaitu kehidupan dalam dunia hukum, saya beri judul singkat, “Living a Lawyer” (plesetan dari istilah: Living a Lie, hehehe..)

************************

Living a Lawyer

Anda tertarik dengan hukum? Pernah bercita-cita menjadi pengacara alias lawyer? Bagaimana ya rasanya jadi seorang lawyer yang mampu mengatasi kasus-kasus rumit dan membaca buku-buku tebal sebagai referensi. Jika dilihat, profesi yang satu ini begitu rumit dan sensitif, tapi mengapa ada orang yang memilih profesi sebagai lawyer, ya?

“Kalau saya, menjadi lawyer karena ingin jadi orang yang bisa memahami hakekat hukum secara lebih baik. Justru saya bangga menjadi lawyer, karena artinya saya memiliki kemampuan di atas rata-rata dibandingkan orang lain, terkait menyikapi suatu hal yang rumit (terkait proses hukum), namun tetap memiliki tingkat kehati-hatian yang sangat tinggi tanpa menjadi lambat dalam berpikir,” ujar Dwi Prihartono, seorang lawyer profesional dari Kantor Hukum Prihartono and Partners.

Menurut dia, lawyer harus selalu siap menghadapi kasus apapun, tidak melihat salah atau benarnya klien yang dibela. “Sebab bagi lawyer, kemenangan diukur dari sejauh mana kepentingan seseorang dapat dilindungi dan dipenuhi,” tegasnya.

Sejauh ini, lanjut Dwi, lawyer di Indonesia hanya bisa membela klien di pengadilan sebagai kuasa hukum, dan tidak bisa sebagai jaksa penuntut umum. Namun, wilayah kerja lawyer tidak dibatasi, sehingga meski kantor lawyer tersebut berada di Jakarta, misalnya, ia tetap bisa menangani kasus di kota lain seperti Makassar. Dan, ketika menangani suatu kasus, lawyer tidak melulu mengandalkan instingnya, apalagi jika bukti-buktinya kurang mendukung. Meski begitu, dalam mengoleksi informasi dan bukti-bukti, seorang lawyer bisa jadi bergerilya seperti detektif. “Bedanya, detektif tidak bisa menjadi lawyer, karena tidak punya izin praktek,” kata Dwi. (Ya eyalah! hehe.. :p)

Dalam proses hukum, putusan pengadilan tidak bisa dituntut, tapi personelnya bisa digugat atau dilaporkan, jika mereka dinilai melanggar hukum. Dan, jika klien keberatan dengan putusan Pengadilan tingkat Negeri (PN), ia berhak mengajukan satu kali banding ke Pengadilan Tinggi (PT). Jika masih belum puas dengan putusan PT, ia dapat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Dan, jika klien masih keberatan dengan putusan MA, maka dapat mengajukan Peninjauan Kembali (PK).

“Jangan sampai salah membedakan MA dengan Mahkamah Konstitusi (MK). MK bukanlah pengadilan. MK adalah lembaga untuk meminta judicial review atau uji materiil suatu hukum atau undang-undang yang dianggap bertentangan atau tumpang tindih dengan aturan lain,” jelas Dwi.

Lebih lanjut, umumnya orang menilai lawyer selalu dibayar mahal dan identik dengan kemewahan. “Padahal tidak juga. Lawyer yang bekerja untuk public interest, misalnya di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan Yayasan Layan Konsumen Indonesia (YLKI) malah jauh dari kemewahan,” ujarnya.

Dan, meski tegas mengaku tidak menemui dilema berarti dalam profesinya sebagai lawyer, Dwi menyatakan lebih senang menghindari kasus hukum yang terjadi antara dua pihak—penggugat dan tergugat—yang sama-sama ia kenal baik. “Hanya saja, penyesalan terbesar dan satu-satunya dari seorang lawyer adalah jika kita tidak laku dan tidak punya klien,” tandasnya. (Interview oleh Mhimi, Featured by Nina)

************************

Nah, begitulah jadinya! keliatan kan, antara transkrip dan hasil tulisan, tidak harus selalu ditulis secara berurutan sesuai dengan list pertanyaan! Tulislah yang kira-kira nyambung dengan kalimat, kumpulkan dalam satu paragraf. Oh ya, guna paragraf ada dua: satu menjelaskan paragraf sebelumnya, atau membuka kalimat baru yang tidak nyambung dengan paragraf sebelumnya. Pintar-pintarlah menggunakan kata pembuka seperti: “Sementara itu…” “Pada kesempatan lain…” dst.

Dan, kalau melihat di tulisan tersebut ada kalimat yang ditambahkan atau diperhalus, it’s okay as long as it’s necessary dan masih dalam wilayah “aman”. Jangan pernah memelintir, karena dapat mengundang delic hukum.

Segini dulu yah sharing ilmu jurnalistik ala Nina.😀

Semoga membantu teman-teman dalam menulis. Tidak hanya menulis yang kaitannya dengan jurnalistik saja, tapi juga bisa diterapkan dalam cerita kita. Improve, improve and keep improving!

2 thoughts on “Menyulap Transkrip Laporan menjadi Feature

  1. come n share says:

    bagus nih infonya…saat ini sedang mendalami konsep menulis. Ternyata ada ya jenis tulisan feature…yhnks

    • p2kafe says:

      Rekan Piter,
      Menurut saya pribadi, tulisan feature adalah jenis tulisan yang paling lengkap (secara format) dan paling komunikatif. Feature tidak kaku seperti straight news, melainkan lebih deskriptif dan kalimatnya pun lebih “bersahabat” dan bisa lebih cepat diserap oleh pembacanya. Tapi feature jauh beda dengan tulisan fiksi ya, Pak. Yang paling membedakan tentu saja dari sisi aktualitasnya. Sedangkan dari sisi gaya bahasa, feature juga lebih fleksibel dibandingkan straight news yang terikat dengan azas KISS (Keep it Short and Simple). Meski begitu, feature tetap harus lugas, tidak perlu bertele-tele.

      Selamat mencoba ya, Pak..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s