Reporter’s Guide (part 4)

Pedoman terakhir, juga dari Bang Jarar..😀 hehe.. sukses terus ya, Bang Jarar! Dan, salam kenal..


Bagaimana wartawan yang baik dan benar

Jarar Siahaan; Blog Berita — Inilah bagian paling mengasyikkan dari ketiga seri tulisan ini; setelah kemarin, Redaktur bukan tukang gergaji ekor berita, dan kemarinnya lagi, Apa yang seharusnya dipahami seorang reporter.

Seperti biasa, peringatanku agar anda tidak percaya bulat-bulat pada apa yang kutulis juga berlaku di sini; malah makin kutegaskan. Kalau pada dua tulisan sebelumnya [mungkin] masih ada sedikit opiniku yang sesuai dengan teori ilmu jurnalisme, maka pada bagian ini kupikir justru sebaliknya. Ini adalah bagian yang hampir seluruhnya merupakan pendapatku yang sangat subyektif.

Maka sebaiknya anda jangan [mudah] percaya. Jangan pula langsung dipraktikkan. Baca saja dengan santai. Anggaplah ini sebuah hiburan berbentuk cerpen, atau tulisan pada sobekan koran bekas pembungkus ikan asin.

1. Hubungan dengan narasumber harus dikontrol agar tidak terlalu dekat dan tidak terlalu renggang. Ini mengarahkan kita menjadi independen. Juga agar tidak diperalat. Menjadi wartawan bukan untuk mencari kawan, juga tidak mencari lawan — tapi mencari berita.

Maka kalau ada wartawan [yang merasa] senior menegur anda, “Sudahlah, ngapain nulis kasus Pak Walikota, kita wartawan ini kan harus menjaga hubungan baik supaya banyak kawan,” jangan terpengaruh. Itu ajaran sesat. Tidak pernah ada dalam kode etik wartawan Indonesia, atau dalam kode etik wartawan di negara hantu belau mana pun, atau dalam mata kuliah jurnalistik, yang menyebutkan profesi wartawan adalah untuk mencari kawan sebanyak-banyaknya. Ingat: wartawan mencari berita — bukan mencari kawan, juga bukan lawan.

Dalam istilahku, setelah 12 tahun bekerja sebagai jurnalis: “Sesungguhnya wartawan adalah pertapa yang hebat, yang sanggup kesepian di tengah keramaian, karena dia lebih peduli pada APA daripada SIAPA.”

Waktu pilkada Tobasa dua tahun lalu ada tiga dari lima calon bupati yang memintaku menjadi tim sukses. Dua calon menyampaikannya secara langsung dan satu lagi lewat orang terdekatnya. Jabatanku semacam kepala publikasi. Gaji dan fasilitas disediakan. Tapi tidak satu pun yang aku iyakan. Jawabanku untuk mereka sama: “Aku akan tulis kegiatan anda. Kalau mau visi-misi, itu iklan. Kalau mau gratis, lakukan atau ucapkan sesuatu yang menarik dan punya nilai berita.”

Sebagai wartawan, lebih bagus jika anda tidak punya profesi lain. Hindari menjadi pengurus parpol, LSM, apalagi pemborong. “Semakin sedikit predikat yang disandang, semakin baik seorang wartawan menulis,” ujar Katharine Graham, pemilik Washington Post. “Wartawan ya wartawan. Titik,” kata Bambang Soed dari Tempo suatu ketika kepadaku di Medan.

2. Cara terbaik menjadi penulis yang baik adalah: mulai dulu menjadi pembaca yang baik. Usahakan menulis feature setidaknya sekali dua minggu .

Wartawan yang bisa menulis feature sudah pasti “sempurna” menulis berita biasa — yang berpola piramida terbalik. Sebaliknya belum tentu. Berita politik atau berita bisnis tidak dibaca semua orang. Tapi feature, iya. Semisal tulisan kaki halaman satu koran-koran milik Jawa Pos Grup yang terbit setiap hari; semua kalangan pembaca bisa menyukainya.

3. Berita bukan cuma mengenai pejabat, tapi kisah rakyat kecil.

Anda mungkin pernah membaca beberapa tahun lalu sebuah berita feature di halaman depan Kompas. Bukan mengenai Presiden yang bermain dengan cucunya; tapi tentang seorang buruh pabrik sandal yang diadukan ke polisi dengan tuduhan mencuri sepasang sandal. Padahal dia cuma memakai sebentar sandal itu ke mushola untuk sembahyang.

Bayangkan, berita sepele itu muncul di halaman depan koran sebesar Kompas. Dan inilah kelemahan banyak koran daerah: sering menganggap hanya berita tentang gubernur atau bupatilah yang layak di halaman depan; padahal justru kisah-kisah humanis tentang orang-orang kecil itulah yang idealnya diangkat pers ke permukaan. Apakah itu karena wong cilik tak mampu kasih amplop kepada wartawan seperti halnya amplop temu pers pejabat? Tak usah jawab; tersenyum sajalah.

4. Jurnalisme adalah pekerjaan orang-orang kreatif. Anda tidak kreatif? Bulan Juli nanti ada 300 ribu lowongan kerja baru; melamarlah jadi CPNS.

Bagi penulis dan jurnalis, menemukan ide-ide, apalagi orisinal, bagai menemukan harta karun. Perhatikan lingkungan; jangan cuma lihat. Simak pembicaraan orang; jangan hanya dengar. Berpikir kreatif kulakukan dengan berkhayal sebelum tidur di tengah malam; atau ketika jongkok di toilet sambil mengepulkan asap rokok. Bila ide muncul, langsung kucatat di kertas atau laptop.

5. Sebisa mungkin jangan kutip jargon dan retorika pejabat.

Itu gaya pers era Soeharto. Pakai kata khusus; bukan kata umum. Hindari repetisi dan kata-kata berkabut.

Tulislah “Lima penjambret dompet ditangkap dalam perayaan Natal dan sudah dimasukkan ke sel Poltabes Siantar.” Tapi jangan tulis “Sejumlah kriminal diamankan aparat untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya karena melakukan tindak pidana dalam perayaan hari raya Kristen yang suci dan khusyuk.” Kalimat seperti ini kutemukan tiap hari di koran daerah, dan itu membuatku tersenyum geli.

Tak ada salahnya sesekali bereksperimen dengan kosa-kata dan frasa baru. Itu membuat karya anda senantiasa segar dan tidak membosankan. Jangan pernah berpikir akan dipuji sebagai wartawan hebat karena anda menulis istilah-istilah sulit, berbahasa asing, dan ilmiah. Bila anda gemar menyelipkan kata-kata ilmiah pada setiap kalimat dan alinea, cobalah menulis buku pelajaran atau jadi dosen — anda sudah kesasar berprofesi sebagai wartawan.

6. Semakin jarang mengutip sumber anonim, semakin baik.

Semakin berani seorang sumber disebutkan identitasnya, semakin kecil kemungkinan ia berbohong. Aku punya tips pribadi untuk ini. Jika aku mulai curiga si narasumber berbohong, aku langsung mengeluarkan alat perekam atau kamera. Jika memang sedang berbohong, biasanya dia menolak untuk direkam atau difoto, lalu berhenti mengoceh.

7. Wartawan harus berkarakter.

Jangan jadi wartawan kebanyakan. Itu yang selalu kuingat dari Pemred Radar Medan, Choking Susilo Sakeh, saat menarikku dari daerah menjadi redaktur. Maka anda harus jadi wartawan berkarakter. Yang kumaksudkan adalah karakter pada tulisan; bukan penampilan diri, apalagi kalau harus menggondrongkan rambut dan memakai sandal jepit ketika meliput.

Jadikanlah ruang redaksi sebagai tempat bekerja sekaligus belajar. Buatlah pembaca membolak-balik koran hanya untuk mencari tulisan anda. Pendiri Kompas Jacob Oetama mengatakan, setiap wartawan harus menetapkan etika dan standarnya sendiri-sendiri.

Pada 1999 atau 2000 sebuah feature-ku, dengan dua tokoh utama, dibuatkan nama oleh redaktur [waktu itu] Porman Wilson sebagai Jeges dan Roa. Tulisan itu menjadi lebih hidup. “Wajah Sang Bupati dijilat sampai berselemak …,” begitu penambahan dari Porman — yang juga seorang penyair — yang tulisannya memang khas dan berkarakter.

Enam-tujuh tahun terakhir aku sengaja tidak pernah lagi menulis deretan gelar kesarjanaan narasumber, kecuali untuk advertorial. Ini memang terlihat sepele. Tapi aku merasakan efek tak disengaja: aku makin independen dan bisa menjaga jarak dengan sumber-sumber.

Ceklah klipping koran di mana aku pernah bekerja; anda tidak akan menemukan beritaku di mana terdapat, misalnya, gelar St Drs Monang Sitorus SH MBA [Bupati Tobasa]. Aku hanya menulisnya Bupati Monang Sitorus. Koran lain? Wah, paling doyan. Bahkan di setiap alinea, deretan gelar itu diulang hingga ke akhir berita. Ada juga seorang wartawan “senior” di Balige, yang merangkap sebagai politisi, yang menulis kegiatan bupati atau kapolres dengan, “Beliau menjelaskan dengan senyum khasnya ….” Beliau? Presiden SBY saja tak ditulis beliau. Wartawan beginilah yang disebut berkarakter … penjilat.

Soal gelar narasumber tadi, tentu ada pengecualian. Misalnya berita seminar ilmu fisika, kita harus menulis gelar si pembicara agar publik tahu layak tidaknya dia bicara soal fisika. Atau dalam berita walikota yang baru dilantik, tentu bagus menjelaskan apa saja gelarnya untuk pertama kali.

Jangan sesekali menjiplak berita dari wartawan lain, apalagi menjiplak yang sudah terbit. Banyak wartawan tukang jiplak? Karena itulah karya-karyanya tidak berkarakter.

8. Belajarlah memotret.

Berita koran akan lebih menarik jika disertai foto. Meskipun tugas utama reporter adalah menulis, sebaiknya jangan malas memotret. Terkadang sebuah foto yang kuat lebih layak menghabiskan lima kolom koran dibanding berita.

Perhatikan foto-foto lepas di Kompas atau Koran Tempo. Sejak awal menjadi wartawan aku selalu membawa kamera ke mana-mana. Bertahun-tahun aku belajar fotografi dari majalah Foto Media bekas [harganya seribu rupiah] yang kupesankan dibeli teman akrabku, seorang mahasiswa, di simpang kampus USU setiap bulan.

Tiga hal pokok dalam foto jurnalistik adalah momen [waktu terbaik menjepret tombol pembuka rana], angle [posisi kamera], dan komposisi gambar. Foto jurnalistik yang baik tidak selalu harus fokus atau berwarna tajam dan indah. Yang utama ialah: foto itu menjelaskan sesuatu. Katakan seorang reporter menyertakan foto untuk berita rapat pemkab seperti ini: gambar seorang PNS memunguti kertas yang lepas dari tangannya dengan latar bupati sedang berbicara. Jika menjadi redaktur, aku akan memakai foto itu daripada foto close-up si bupati.

9. Jangan menginterogasi; anda bukan polisi.

Tugas wartawan sebatas memberitahu publik apa yang terjadi. Maka jangan memosisikan diri sebagai interogator, jaksa, atau hakim ketika mewawancarai narasumber. Di Balige ada seorang wartawan tua yang terkenal dengan pertanyaannya yang tajam, bahkan sering sampai terkesan kasar. Tapi dia cuma menjadi pejantan tangguh ketika wawancara; kebanyakan hasil wawancara dan liputannya tidak pernah ditulis. Menggertak biar dikasih amplop?

Pakailah bahasa yang santun. Kritis tidak berarti harus kasar. Lebih baik kita terlihat bodoh di depan narasumber daripada konyol di mata pembaca.

Masih di Balige, ada seorang jurnalis muda yang bekerja di sebuah koran Medan beroplah besar, yang dalam wawancara malah lebih sering menyampaikan pernyataan berupa pujian kepada narasumber — bukan pertanyaan. Menjilat biar dikasih amplop?

10. Senjata wartawan yang paling ampuh adalah bertanya.

Amunisi paling tajam adalah kata-tanya “mengapa”. Aku menyadari itu setelah membaca sebuah puisi terjemahan berjudul Jangan pernah membunuh pertanyaan.

11. Akhirnya …, bagaimana dengan amplop?

Jangan pernah meminta. Kalau diberikan, dan anda yakin obyektivitas anda menulis tidak terganggu, terima saja. Tapi kalau amplop itu memengaruhi anda menulis, sebaiknya tunda untuk menerima. Setelah berita terbit dan narasumber anda tetap ingin memberikan, itulah momen yang tepat untuk anda menerima.

Aku pernah mengembalikan uang dari seorang sumber karena dia kecewa berita yang kutulis tidak persis seperti keinginannya. Dia agak marah. Kemudian hari aku tahu, dia sudah terbiasa “memesan berita” kepada wartawan koran lain.

Sikapku ini menjadi “trademark”-ku di kalangan narasumber dan wartawan Balige: bahwa sekalipun Jarar diberi uang, ia tetap akan menulis sekehendak perutnya.

Cara itu aku terapkan selama ini. Kecuali ketika masih aktif di AJI, sama sekali — secara total, dengan alasan apapun — aku menolak amplop. Dan itu sempat membuatku dan anak-istriku menderita — dalam arti sesungguhnya.

“Jarar sudah ‘bertobat’ …,” begitu Pemred Metro Tapanuli, Goldian Purba — yang pernah redpel di Manado Post — menyimpulkan sikapku dalam sebuah rapat di Siantar. [www.blogberita.net]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s