Reporter’s Guide (part 1)

Tulisan berikut ini diambil dari blogberita.net. Penulisnya adalah seorang wartawan senior Jarar Siahaan.

Menurut saya, isinya bagus sekali dan bisa dijadikan acuan untuk rekan-rekan yang ingin menjadi “peramu tinta” (meminjam istilah Korkot Barito, KMW III P2KP-2 Kalteng).

Selamat membaca..🙂

Yang perlu diketahui reporter

Jarar Siahaan; Blog Berita — Wartawan yang mencari berita di lapangan, reporter, adalah ujung tombak media. Di tangan reporterlah, sesungguhnya, bagus-tidaknya sebuah berita ditentukan; bukan oleh redaktur.

Tulisan ini terdiri dari tiga bagian, dan ini adalah bagian pertama, yang akan kumunculkan di blog ini secara berturut dalam tiga hari. Artikel ini jangan dianggap sebagai teori atau rumus pasti. Ini hanya pendapat pribadiku berdasarkan pengalaman 12 tahun menjadi wartawan koran. Jadi bagi wartawan lain bisa saja apa yang kutulis di sini tidak benar.

Sekali lagi, harap anda jangan menelan bulat-bulat apa yang kutulis ini. Apalagi aku cuma wartawan tamatan SMA yang belajar jurnalisme secara otodidak; jadi sangat mungkin apa yang kuungkapkan di sini berbeda dengan “ilmu jurnalisme yang resmi” seperti terdapat pada diktat kuliah.

Inilah poin-poin penting yang menurutku seharusnya dipahami seorang reporter dalam menjalankan tugasnya.

1) Jangan pernah berbohong.

Ini yang paling utama menurutku. Nasib koran sesungguhnya berada di ujung pena reporter; baru kemudian redaktur. Ibaratnya: reporter adalah pemain bola yang bisa mencetak gol ke gawang lawan atau juga bikin gol bunuh diri, sementara redaktur adalah wasit.

Pengadilan menunggu kita setiap saat. Jangan karena diberi amplop atau berteman dekat dengan narasumber, anda menggelembungkan fakta 100 orang demo menjadi ribuan orang. Atau menulis “warga diduga dipersulit staf Camat bikin KTP” padahal sebenarnya anda tahu yang terjadi adalah “Camat minta Rp 100 ribu agar mau neken KTP”. Redaktur tidak akan tahu kebohongan seperti ini. Juga jangan pelesetkan ucapan narasumber.

Aku punya pengalaman tentang bersikap jujur. Dua tahun lalu sebuah laporanku menjadi berita utama halaman depan harian Metro Tapanuli. Ceritanya mengenai penyampaian visi-misi lima calon Bupati Tobasa di DPRD. Judul yang kubuat tidak diubah sama sekali: Massa Basar demo, Dewan walk out. Massa dan anggota dewan dimaksud adalah lawan politik kandidat Monang Sitorus — yang akhirnya terpilih sebagai bupati. Besoknya hanya di Metro peristiwa itu terbit sesuai fakta, apa adanya. Bahkan belasan koran lain yang berseberangan dengan Sitorus tidak menulis selugas itu. Aku tahu berita itu sangat memukul kubu Sitorus. Apalagi [mungkin anda tidak percaya] edisi itu dipesan seribu eksemplar oleh tim suksesnya. Mungkin juga anda masih takkan percaya, saat itu sudah 30-an juta uang mereka yang masuk ke koran tempatku bekerja lewat iklan dan order koran. Tapi aku berprinsip: berita harus kupisahkan dari iklan.

Meskipun pers juga adalah lembaga bisnis — selain lembaga demokrasi — tidak berarti wartawannya legal melakukan trade-out [memberitakan iklan], apalagi sampai memutar-balikkan fakta. Pagar api [tanda yang memisahkan/ membedakan berita dan iklan] harus menjadi kesepakatan ruang redaksi dan perusahaan media.

Jujur dan mendengarkan hati nurani adalah jauh lebih utama daripada sekadar menguasai teknik jurnalistik. Fakta adalah suci. Jika anda terbiasa memerkosa fakta, segeralah beralih profesi.

2) Tentukan angle berita sejak masih meliput di lapangan.

Banyak wartawan berpikir bahwa sudut pandang berita baru perlu saat hendak menulis. Ini keliru.

Tahun-tahun pertama jadi wartawan, aku sering bergumam di depan mesin ketik: “Angle begini lebih menarik, tapi kok aku kekurangan bahan ya ….” Maka ketika dalam melakukan reportase atau wawancara anda menemukan hal yang lebih menarik daripada angle awal, galilah kembali mulai dari situ. Bukan dosa bila anda lari dari angle yang ditugaskan redaksi. Disiplin jurnalisme berbeda dengan militerisme.

3) Dalam wawancara jangan menjebak narasumber dengan “meminjam mulut”.

Kecuali anda menulis untuk “koran kuning”. Biasakan memakai pertanyaan terbuka, sehingga jawaban bisa lebih beragam dan luas. Pertanyaan tertutup — yang hanya butuh jawaban ya atau tidak — baru efektif dipakai dalam liputan investigasi [saat data akurat sudah di tangan dan kita hanya ingin “menangkap tersangka”].

4) Patuhi etika. Hargai off the record.

Ada kalanya anda sedang bergunjing di kedai kopi dan sumber-sumber melontarkan pernyataan menarik. Suatu hari anda mengingat obrolan itu lalu mengutipnya ke dalam berita. Anda bisa digugat. Seharusnya anda menghubungi kembali narasumber dan meminta izin bagian-bagian mana dari ucapannya yang akan anda kutip. Jika dia tidak bersedia, anda pun harus berhenti menulis.

5) Catatlah suasana saat melakukan reportase dan wawancara. Hal-hal sepele membuat tulisan lebih manusiawi.

Dalam sebuah berita seremonial, yaitu penyerahan kendaraan dinas kepala desa, aku menulis: Bupati sempat menghidupkan dan mengecek speedometer ke-15 sepedamotor itu satu per satu. “Saya cek dulu, benar nggak ini baru. Oh …, iya, benar,” ujarnya.

Jason, seorang wartawan di Kota Siantar, mengaku menerapkan apa yang pernah kubilang saat dia mewawancarai Marim Purba di penjara Desember dua tahun lalu. “Aku gambarkan bagaimana dia mengisap rokok, istrinya pakai baju apa …,” kata Jason.

6) Arsipkan semua klipping berita dan bahan mentah berita anda. Selalu jelaskan ulang latar belakang sebuah masalah jika anda menulis berita lanjutannya. Redaktur dan pembaca tidak akan ingat apa yang anda tulis sepekan lalu.

7) Jangan hanya mengandalkan bahan siaran pers. Jangan hanya mendengar jika bisa menyaksikan langsung.

Kisah nyata berikut ini, yang kukutip dari sebuah buku jurnalistik tua [aku lupa judul buku itu] bisa jadi pelajaran berharga.

Seorang wartawan pemula di Amerika Serikat ditugaskan meliput kotbah Minggu malam. Karena pada jam bersamaan terlanjur ada janji kencan dengan pacarnya, dia meminta naskah kotbah sang pendeta. Dia pun merasa tak perlu lagi hadir di gereja untuk meliput. Berita diketik dan diserahkan kepada redaktur Senin pagi.

“Berita yang bagus. Lead-nya juga menarik. Tapi …, bagaimana dengan kebakaran …,” kata Redaktur Kota, datar dan lembut.

“Kebakaran?”

“Gereja itu hangus terbakar sebelum kebaktian dimulai,” ujar Redaktur, kali ini tidak lagi lembut. “Dan tidak ada khotbah!” [www.blogberita.net]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s