sertai sejarah dalam tulisan, agar rasa sentimentil pembaca tersentuh

Beberapa hari lalu, saya sempat mendapat email dari Pak Dade, Fasilitator di Klaten (KMW 14 P2KP-2 Jateng). Isi email Pak Dade sebagai berikut (saya kira ini bisa untuk sharing juga nih..)

Klaten, 11 Januari 2007
Kanggo Teh Nina (Editor P2KP.org)
di
Ibukota Indonesia
Askum,
Teh nyungkeun saran, pendapat dan arahan :
Intinya : 1. Saya ingin menulis tentang hasil pelaksanaan BLM 1 PNPM P2KP bidang lingkungan,
2. Salah satuna adalah rehabilitasi sumber air yang sudah lama tidak terurus bahkan sudah tertimbun tanah.
Kira-kira bagaimana carana tiasa menarik ?
Sebagai info :
Di Desa Manjung, ada 5 sumber air. Pada saat awal keberadaan sumber air ini kurang terurus. Padahal jaman dahulu kala, sumber ini menjadi primadona khususnya untuk membantu pengairan sawah sekaligus juga ada cerita mistik yang katanya sering orang datang ke tempat tersebut untuk mengambil airnya berdasarkan perintah “orang pintar” agar memperlancar keinginannya. Selain itu ada salah satu sumber air (goling) dulu banyak lelenya, dimana masyarakat tidak berani mengambilnya.
Seiring waktu, terjadi pendangkalan, khususnya sumber air salak telah tertimbun tanah, sumber air goling lelenya sudah menghilang. Akibat yang terjadi debit air menurun bahkan bisa menghilang.
Atas dasar itu semua, masyarakat merasakan perlunya dihidupkan lagi sumber air, karena akan berdampak pada pengairan sawah, akibat lanjutnya pendapatan petani naik, karena bisa bertani 3 kali setahu atau pada musim kemarau air tetap ada.
Akhirnya kebutuhan ini diakomodir masuk dalam program kerja BKM (PJM Pronangkis). Dan didanai oleh PNPM_P2KP.
Saat ini dengan fasilitasi dana PNPM-P2KP parantos 2 sumber air yang direhabilitasi. Yakni Sumber Guling dan Sumber Salak.
Hasilnya :
1. Sumber guling, direhabilitasi, ditata, akhirnya tertata rapih dan debit air meningkat. Aliran air ditata dan disalurkan ke saluran yang menuju sawah.
Fungsi sumber air ini selain untuk pengairan ke sawah ternyata dipakai untuk mandi, cuci piring maupun baju. Yang cukup menariknya ternyata sekarang sering dijadikan tempat berenang anak-anak.
2. Sumber Salak (saat awal tertimbun tanah). Terus digali, ternyata sumber airnya keluar lagi, bahkan diluar area itu menemukan sumber air lagi kemudian oleh KSM disalurkan ke sumber salak. Peran fungsinya sumber ini sama dengan sumber guling. Yang menariknya, saat sebelum penggalian, di tempat tersebut diadakan doa bersama seluruh pemimpin agama yang ada di manjung.
Sekarang sumber ini, juga dijadikan tempat lek-lekan (1 Suro).
Pertanyaan saya dan permohonan saya :
1. Apa yang perlu digali agar bisa menghasilkan bahan untuk tulisan (5W+1H). Kalau bisa detail. Bukan nyuruh loh. tapi ingin bisa.
2. Mohon di balas. he…..he.
Wasalam.
dade

Berikut jawaban saya:

Assalamu’alaikum wr wb.,

Pak Dade, akhirnya saya bisa nge-email juga! hehe.. sejak kemarin ada trouble, susah masuk ke yahoomail nih. Nah, soal tulisan kemarin, mari kita bahas.. Bismillahirrahmannirrahiim..

Pak Dade, soal goling lele itu, sudah pernah tayang lhoo.. Inget nggak dulu Pak Dade pernah ngirim tulisan “Umbul Goling, Obyek Wisata Mistik dan Kuliner”? Coba deh dilihat di http://www.p2kp.org/wartadetil.asp?mid=1951&catid=3&. Meski begitu, kalau ingin diperdalam lagi, boleh, Pak..

Menurut saya, sama seperti email hari Senin lalu, intinya tema tulisan yang akan Pak Dade angkat tuh sudah bagus. Saran saya sih, tulisan seperti ini dijadikan feature saja, jangan straight news. Karena, kelemahan straight news itu bahasanya kaku dan terlalu saklek. Sedangkan tema yang ingin diangkat Pak Dade (menurut saya) lebih bagus dijadikan tulisan yang deskriptif, dengan tujuan menyentuh & membujuk kesadaran pembaca agar lebih care dengan tempat-tempat historis semacam umbul goling tersebut.

Nah, untuk memperkaya isi tulisan, Pak Dade bisa mencari narasumber yang berkompeten, seperti kepala desa setempat atau para tetua yang sangat “fasih” dengan sejarah goling tersebut. Ini berguna untuk menyentuh masalah historis-nya, agar rasa sentimentalisme dan humanisme pembaca tergerak.

Info tentang sejarah berbau mistik di balik sebuah tempat itu selalu menarik untuk diikuti, mengingat masyarakat kita memang masih akrab dengan hal-hal yang bersentuhan dengan alam dan Tuhannya.

Sejarah juga bisa digunakan sebagai alat yang kuat untuk mengajak masyarakat (pada umumnya) dan pemerintah daerah (pd khususnya) agar melestarikan peninggalan budaya di tempat tertentu, karena bisa dikembangkan sebagai tempat wisata (misalnya, seperti yang pernah Pak Dade tulis), yang tentunya akan menambah pendapatan daerah juga.

Adapun hal yang bisa digali, antara lain,

– Bagaimana tanggapan masyarakat terhadap “nyaris hilangnya” sumber air terpenting di desa mereka. Dengan pulihnya goling, tentu mereka akan punya opini yang bagus.

– Bagaimana perhatian pemda terhadap hal serupa di atas?

– Bagaimana proses pengajuan pemulihan sumber air, sehingga berhasil masuk ke dalam PJM BLM I.
Nah, dari “proses” di atas bisa didapatkan 5W 1H, misalnya kapan saja pelaksanaan rembug/saat menyusun proposal utk PJM Pronangkis; Kapan pengerjaannya; Siapa saja & berapa banyak masyarakat yang berpartisipasi mengerjakan kegiatan; Bagaimana antusiasme masyarakat saat dan sesudah pengerjaan; Apa saja harapan-harapan ke depan dari mereka.

Begitu saran (sementara) dari saya, Pak Dade. Mudah-mudahan ucapan saya bisa menginspirasi Pak Dade dan lebih banyak memberikan Bapak ide yang lebih fresh lagi ya, Pak? Semoga bisa membantu nih.. hehe..

Oke, Pak Dade, selamat menulis! Saya yakin tulisan Pak Dade bagus! Memang semakin hari, saya lihat, kemampuan menulis berita/cerita Pak Dade semakin terasah, saya sangat senang mengeditnya..🙂

Hatur nuhun dan good luck ya! Bravo Klaten! Wassalamu’alaikum wr wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s