RSS Feed

Pekerjaan Paling Melelahkan

Posted on

Rekans, sudah lama saya tidak mengisi blog ini. Mohon maaf.. :(

Langsung saja yaa. hehe..

Seorang kawan mengatakan, salah satu pekerjaan paling melelahkan di dunia adalah menjadi editor. Lelah otak. Lelah mata. Lelah batin. Begitu mereka bilang. Saya cuma nyengir. Maklum, saya sendiri adalah seorang editor.

“Bukankah sulit jadi editor atau redaktur? Lebih enak jadi reporter, kalau salah pun ada yang mengedit dan semua adalah tanggung jawab redaktur/editor,” ujar teman saya.
Saya mengangguk. Memang betul. Di dunia jurnalistik, tugas sebagai reporter biasanya “lari-lari” di lapangan, mengumpulkan data, kalau perlu ke TKP, lalu konfirmasi ke narasumber yang bersangkutan, bikin transkrip–kalau perlu nyontek dari teman reporter lain (haha..), ketik, selesai, pulang. Sisanya adalah tanggung jawab redaktur masing-masing desk.
Itu reporter pada umumnya. Saya ulangi, sambil di-bold tulisannya: REPORTER PADA UMUMNYA.
Lalu bagaimana reporter yang tidak pada umumnya?
*nyengir*
Sejak awal saya bergabung di koran Harian Jakarta, mulai dari redaktur (alm. Heru Suprantio, dan Pak Chairil Makmun) sampai Pemred (Albert Kuhon) sudah rajin mencereweti saya, bahkan “brainstorming” agar saya tidak jadi reporter pada umumnya. Entah kenapa dan apa yang dilihat oleh para senior saya ini dalam diri saya. Mungkin mereka melihat potensi, makanya sayang kalau hanya jadi reporter biasa-biasa saja. *ge-er* 
Tapi, ya begitu konsekuensinya. Bisa dibilang saya digembleng habis. Saya ngga usah cerita bagaimana sepak terjang saya di lapangan karena dari kantor “dikerjai” (seperti disuruh masuk ke gedung DPR tanpa ID card/name tag. hahaha.. dasar redpel gokil!), saya cuma mau cerita dari sisi tulisannya saja.
Nah, redaktur-redaktur saya waktu itu ketat sekali mengajarkan saya menulis yang baik. Mulai dari ejaan (tata bahasa), rasa bahasa sampai gaya bahasa.
Setiap hari sehabis liputan dan kelar ngetik berita, saya “dipaksa” duduk di samping redaktur agar bisa melihat apa saja kesalahan saya dalam menulis.
Saya dipetuahi, “Jadilah reporter yang berpikir seperti redaktur.”
Artinya, dalam menulis berita sesingkat apapun, saya PANTANG (malah nyaris HARAM) mengabaikan tata bahasa dan rasa bahasa (sedangkan gaya bahasa itu muncul sendiri, ngga harus diajari).
Ajaran itu saya pegang teguh sampai akhirnya saya menjadi editor.
Guess what: IT HELPS A LOT!! And I mean, A LOT.
Dalam hati saya pribadi, siapa nyana kalau pengalaman saya sebagai jurnalis ini akhirnya mengantarkan saya begitu jauh sampai menjadi penulis buku segala, walaupun baru sebatas hasil gawe bareng-bareng teman2 blogger (one day, I’ll write my own book—put it in my bucket list). Saya juga dipercaya mengedit beberapa buku keluaran pemerintah, bahkan mengedit-mentranslasi di publisher lain (freelance).
Tapi pengalaman paling dahsyat adalah ketika saya ditugasi menjadi editor untuk situs dimana saya bekerja sekarang. Pasalnya, koresponden yang saya hadapi sekitar 95%-nya BUKAN REPORTER/Wartawan. Bayangkan!!
Mengedit tulisan dari seorang koresponden yang mantan reporter saja kadang bikin saya harus membaca kalimatnya berulang-ulang karena rasa bahasanya janggal. Begitu ketemu tulisan yang ditulis oleh seorang koresponden yang tata dan rasa bahasanya bagus, ditambah gaya bahasa yang khas, saya mendadak sangat bersyukur. Alhamdulillah! Sampe hampir jumpalitan dari kursi, saking senangnya.
Lebay ya? Tapi bener kejadian tuh! hahaha.. Hari itu saya menerima tulisan artikel dari seorang mantan wartawan Pikiran Rakyat. Tulisannya bagus, ejaannya bagus, alurnya ciamik. Saya langsung berdiri dari kursi dan berteriak, “NAH!!! BEGINI DONG KALAU NULIS!!”—membuat rekan kerja saya menoleh kaget, lalu ngakak.
Maklum, di hari lain, biasanya saya mengedit tulisan sampai kepala saya tidur-tiduran di meja, sambil berpikir, “Iki tulisane maksudte opooooo sehhh..”—mendadak berbahasa Jawa, padahal saya orang Sunda! hahahaha..
However, berkat itu semua, saya juga belajar menjadi seorang ghostwriter, tidak sekadar editor. Dan, percayalah, menjadi seorang ghostwriter itu susah, jenderal!! :p
Nah, sampai di sini, saya mengangguk-angguk. Ya, mungkin kawan saya yang mengatakan bahwa pekerjaan paling melelahkan adalah editor itu ada benarnya. Dan, lucunya, saya sedang menjalaninya, tapi MENYUKAINYA. hehehe.. Guess that I’ve passed my own challenge. Apalagi setiap hari tingkat kesulitan untuk mengedit tulisan (terutama mengerti sebuah tulisan) itu, entah kenapa, semakin meningkat juga.
Seesh, doesn’t anybody of my contributors learn?? :p
Tapi yang bikin hati optimis adalah para koresponden/kontributor yang saya bimbing dari jauh (hanya lewat email dan blog, karena tidak ada budget untuk pelatihan) juga menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam menulis. HUHUYYY!!
Inti tulisan saya di sini adalah, teman-teman di sini kan blogger–minimal pembaca blog lah, hehe.. Nah, meski kelihatannya remeh, tapi cobalah menulis yang baik dari segi tata bahasa (minimal itu tuu!)
Setidaknya, berniatlah untuk membuat editor Anda tersenyum gembira, karena itu bisa meringankan bebannya. Hahahaha.. *yes, fellow editors, I hear ya!* :D Harus disadari bahwa editor tidak hanya mengedit satu artikel Anda saja, melainkan BANYAK artikel dari penulis lain. Jadi, alangkah sangat membantu (halah, lebay bener bahasa saya) kalau penulis mau susah sedikit belajar menulis lebih bagus dari segi ejaan dan alur tulisan.
Okey, segini dulu yaa tulisan dari saya hari ini. See y’all again soon, I hope.. Peace! ;)

Cerita Inspiratif

Posted on

Pertama-tama, saya mohon maaf karena sudah lama sekali mengabaikan blog ini. Bukan maksud hati menyueki (duh, bahasa apa itu “menyueki”? :D ) blog, apa daya mata sibuk memelototi tumpukan artikel di email, sambil mempublikasi 1 – 3 tulisan per hari di website.

Anyways, sebagai penghibur hati, izinkan saya berbagi satu cerita yang sangat menyentuh hati ini.. Selamat membaca..  Read the rest of this entry

Buka Puasa dengan Minuman Energi? Tunggu Dulu!

Posted on

Beberapa kali saya melihat iklan minuman berenergi sepanjang Ramadhan tahun ini. Ada yang menyarankan meminumnya sebelum sahur, ada juga yang bilang, baik diminum untuk berbuka. Tapi, tepat nggak sih berbuka dengan minuman berenergi?–begitu yang ada di pikiran saya, saat melihat iklannya.

Kita telaah yuk..

Bukannya apa-apa, saya hanya teringat tata cara Rasulullah, SAW dalam berbuka. Menurut saya, cara Rasulullah, SAW sudah pasti yang paling baik dan patut diikuti oleh umatnya. Bagaimana sih adab Rasulullah, SAW berbuka puasa? Simpel: segelas air dan tiga butir kurma. Ingat sabda Rasulullah, SAW, “Berbuka-lah dengan yang manis.” Manis di sini maksudnya adalah buah kurma. Bukan teh botol lho, ya! Itu mah untuk kepentingan iklan aja.. :)

Read the rest of this entry

Jadi Workaholic? Boleh Saja. Tapi….

Posted on

Rekans P2KP/PNPM Mandiri Perkotaan tercinta,
Selamat menjalani ibadah Ramadhan bagi rekans Muslimin dan Muslimah. Semoga Ramadhan kali ini membawa keberkahan dan mendapat ridho Allah, SWT. Amiiin..

Pagi ini saya menemukan artikel menarik mengenai perangai bekerja, tepatnya workaholic, alias gila kerja. Bagus nggak sih jadi workaholic itu? Well, kalau dilihat dari sudut agama, di mana-mana yang namanya “terlalu” atau berlebihan itu tidak baik–dan tidak disarankan untuk tetap dilakukan. Secara logika dan science pun, idem ditto. Kenapa? Salah satunya, mari disimak artikel dari vivanews berikut ini..

Selamat membaca ya..

Read the rest of this entry

Email Redaksi Diserang Spam

Posted on

Salam hangat,

Rekan-rekan pengguna Website P2KP/PNPM Mandiri Perkotaan yang kami hormati.

Bagi rekan-rekan yang hendak mengirimkan tulisan untuk ditayang di website, untuk sementara waktu, silakan mengirimkannya ke warta @ pnpm-perkotaan.org (tanpa spasi, ya).

Email redaksi at pnpm-perkotaan.org untuk SEMENTARA akan dibekukan mengingat gencarnya serangan spammail ke mailbox redaksi.

Spam mail di inbox Redaksi

Setelah spam berhasil diatasi, kami akan memberi informasi selanjutnya.

Terima kasih dan mohon maklum.

Salam kompak!
Redaksi Web

M.P. itu Gelar Master Apa Sih?

Posted on

Pagi ini, Ruangan Web kedatangan Bu Ani, salah satu Sekretaris KMP Advanced yang juga sibuk mengurusi (absen) Tim Web, Tim FMR dan Tim Contract Resume.

Usai absen, saya mengingatkan Pak Dedi tentang rencana cuti yang ingin diajukan beliau. Akhirnya saling berinteraksi-lah dua manusia *halah*–Pak Dedi dan Bu Ani–membicarakan tentang form cuti dan isiannya.

Suatu ketika, tercetus pertanyaan dari Pak Dedi, “M.P. ini gelar apa ya?” Konon gelar M.P. ini menghiasi nama Team Leader KMP Reguler (PNPM Mandiri Perkotaan) Pak Hari Pras. Ah, jarang memang kami mendengar gelar M.P. ini.. Read the rest of this entry

Link SIM sudah pulih

Posted on

Dear Rekans,

Mohon maaf agak terlambat meng-update. Link SIM kini sudah dapat diakses kembali setelah dilakukan “kolaborasi” antara Tim SIM KMP dengan Tim Website, dalam menumpas virus dan malware yang menyusupi web sim sebelumnya.

Mohon diingat bahwa kita memiliki dua server terpisah, yaitu server Website–isinya konten website–dan server SIM–berisi database SIM dengan domain berbeda (sim.p2kp.org) dan IP yang berbeda pula. Singkat cerita, virus/malware ini masuk ke server SIM dan membuat Tim SIM “kebakaran jenggot” takut data hilang.

Selidik punya selidik, virus dan malware ini konon ditularkan dari server lokal di KMP, yang memang beternak virus. Hehehe.. Iiih.. Read the rest of this entry

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.